Sabtu, 17 Januari 2015

Melepas Kepergian Senja


" Mungkin aku harus mengerti tanpa harus diminta
Merasa tanpa harus terucap kata
Dan aku tau, tanpa kamu minta pun aku akan pergi
Itu yang selama ini senja inginkan dariku bukan?”

Itulah isi sebait tulisan yang terlihat disebuah buku diary bernuansa pastel yang kini berada dikedua  tangannya
Disebuah bangku panjang,dibawah pohon akasia terlihat sosok gadis berhijab yang membalut wajah tirusnya dengan warna merah muda dan busana yang senada
Entah apa yang tengah lalu lalang dipikirannya kini
Yang tegambar hanyalah wajah sendu diikuti linangan airmata yang perlahan keluar dari muara pelupuk matanya

Sore itu semesta memang tak lagi berpihak pada hatinya
perpaduan jingga dan senja di angkasa dihiasi burung wallet yang akan kembali kesangkarnya setelah seharian berpetualang di jagad raya
Angin yang bertiup lembut yang berhasil menerbangkan setiap satu persatu dari mahkota dandelion ditaman ini, membentuk siluet bak sayap malaikat yang kembali ke singgasanya

Keindahan sore itu sama sekali tidak dinikmati oleh gadis ini, ia hanya bisa terisak
Menyadari bahwa yang pergi pasti takkan kembali
Sebenarnya mengapa kepergian selalu disesalkan?
Dan kedatangan selalu dinantikan?
Padahal yang datang, mungkin saja akan pergi lagi
Dan yang pergi, mungkin saja akan kembali
Cukup percaya bahwa jika senja itu miliknya, maka senja itulah yang akan kembali memeluknya, menenangkannya disaat gundah, menguatkannya disaat terjatuh, menghapus air matanya saat ia rapuh

“Sebelum kamu datang, seharusnya kamu mau berjanji untuk tidak pergi...
Kenapa kamu pergi tanpa bilang apapun ke aku, pergi semau kamu 
Kenapa kamu pergi sebelum kamu sempat tau kalo aku juga sayang sama kamu

Kenapa ?"
Tangisnya tumpah disaksikan senja

Tidak ada komentar:

Posting Komentar