" Mungkin aku harus mengerti tanpa harus
diminta
Merasa tanpa harus terucap kata
Dan aku tau, tanpa kamu minta pun aku
akan pergi
Itu yang selama ini senja inginkan
dariku bukan?”
Itulah isi sebait tulisan yang terlihat
disebuah buku diary bernuansa pastel yang kini berada dikedua tangannya
Disebuah bangku panjang,dibawah pohon
akasia terlihat sosok gadis berhijab yang membalut wajah tirusnya dengan warna
merah muda dan busana yang senada
Entah apa yang tengah lalu lalang
dipikirannya kini
Yang tegambar hanyalah wajah sendu
diikuti linangan airmata yang perlahan keluar dari muara pelupuk matanya
Sore itu semesta memang tak lagi
berpihak pada hatinya
perpaduan jingga dan senja di angkasa
dihiasi burung wallet yang akan kembali kesangkarnya setelah seharian
berpetualang di jagad raya
Angin yang bertiup lembut yang berhasil
menerbangkan setiap satu persatu dari mahkota dandelion ditaman ini, membentuk
siluet bak sayap malaikat yang kembali ke singgasanya
Keindahan sore itu sama sekali tidak
dinikmati oleh gadis ini, ia hanya bisa terisak
Menyadari bahwa yang pergi pasti takkan
kembali
Sebenarnya mengapa kepergian selalu
disesalkan?
Dan kedatangan selalu dinantikan?
Padahal yang datang, mungkin saja akan
pergi lagi
Dan yang pergi, mungkin saja akan
kembali
Cukup percaya bahwa jika senja itu
miliknya, maka senja itulah yang akan kembali memeluknya, menenangkannya disaat
gundah, menguatkannya disaat terjatuh, menghapus air matanya saat ia rapuh
“Sebelum kamu datang, seharusnya kamu
mau berjanji untuk tidak pergi...
Kenapa kamu pergi tanpa bilang apapun
ke aku, pergi semau kamu
Kenapa kamu pergi sebelum kamu sempat
tau kalo aku juga sayang sama kamu
Kenapa ?"
Tangisnya tumpah disaksikan senja

Tidak ada komentar:
Posting Komentar