Sabtu, 31 Januari 2015

Senja Yang Belum Terbenam (2) the last


Sosok yang amat Gea kenali kini berada tepat didepan kelasnya
Menatapnya dalam penuh kerinduan
Tersenyum simpul dan menjatuhnya tubuh mungil Gea dalam pelukannya
  

Add caption
“Kangen kamu sayang” bisiknya
Sorakan dari teman sekelas Gea mengiringi isakan tangisnya, ingin sekali ia marah, tapi sekali lagi
Dani adalah orang yang paling bisa membuat Gea luluh

“Aku gak pernah minta semua waktumu buat aku kan? Hanya terkadang, aku ingin ditemani, merasakan hadirmu, apa itu salah Dan?”
Tangisnya semakin menjadi

“Jangan nangis lagi, aku udah disini kan sekarang” tangannya membasuh air mata yang membasahi kedua pipi Gea



7hari , 168 jam bukan waktu yang singkat bagi Gea
Dan tanpa Dani tau, 168 jam berhasil membawa kembali
Masalalu Gea bersama Rhafa

Ini adalah bulan ke 10 hubungan Gea dan Dani
“Rhafa? Dia siapa Gea??”
pertanyaan yang terlontar dari Dani ditengah tengah makan siang mereka

“Dari mana kamu tau tentang dia Dan” jawab Gea dengan nada takut

“ Aku tau semua tentang kamu, kenapa kamu gak cerita?”

“Rhafa…dia itu….temen smp Gea dulu” 
“Cuma itu?” timpal Dani
Tatapan serta nada bicara Dani berubah, membuat Gea takut untuk menatap mata teduh itu
Dani telah menahan rasa ini berbulan bulan, ia telah mendapat jawaban kenapa Gea sering kedapatan sedang melamun bahkan menangis

“Kenapa kamu gak cerita dari awal, kalo kamu masih sayang sama dia
aku bisa berhenti buat sayang sama kamu, kita jalan masing masing”

Perkataan Dani sungguh tak pernah dikira olehnya, semudah itu Dani ingin mengakhiri semuanya?

“Gampang banget ya Dan kamu bilang kayak gitu, kurang mengerti apa selama ini aku ke kamu Dan,
kamu ingat, selama di Kamboja, kamu sama sekali gak kasih kabar ke aku
dan kalo kamu kasih alasannya, mungkin aku bisa ngerti Dan ”

Emosi Gea memuncak, dengan sesegera dia meninggalkan Dani
dan makanan yang belum sempat Gea sentuh.

Dan seandainya kamu juga kasih tau aku alasannya kenapa aku gak bisa gantiin posisi dia dihati kamu, mungkin aku juga bisa ngerti Gea”

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Sudah hampir sebulan Dani tak menghubingi Gea, begitupun sebaliknya
Gea masih tak habis pikir dengen tingkah Dani, kenapa malah dia tidak mencoba menjelaskan semua

Sedangkan Dani, seperti biasa..hampir setiap hari dia harus mengikuti seminar, rapat dan segala yang berkaitan dengan organisasi yang digelutinya
Dani hanya tau satu hal tentang Gea, dia masih belum bisa melupakan cinta pertamanya
Dani merasa perhatiannya selama hampir 11 bulan ini hanya sia sia


Dengan celana panjang hitam serta baju kemeja batik khas motif SMA Nirlangga, membuat Gea sangat mengenali sosok didepan gerbang SMAnya kini.

“Gea…aku sayang sama kamu
aku gak bisa liat kamu nangis terus gara-gara aku gak bisa selalu ada buat kamu.
Aku yang terlalu egois. Dan mulai sekarang aku gak punya lagi kesempatan buat nyakitin kamu,
aku akan berhenti jadi penghalang kamu untuk kembali ke Rhafa, cinta pertama kamu”
Ucap Dani lembut seraya menggenggam kedua tangan Gea

“ Tapi Dan…..” Ucap Gea dengan mata berkaca kaca
“Ssttt...kita akan tetap seperti ini, kamu masih mau kan nerima aku sebagai teman?
Jangan nangis lagi, aku gak rela air mata kamu jatuh lebih banyak”

Dani membelai lembut puncak kepala Gea
Kecupan hangat kini mendarat di keningnya

“Dan...banyak yang liatin kita” bisik Gea

Dani hanya melirik kanan dan kiri tempat ia berdiri
dan tanpa peduli malah menjatuhkan Gea dalam peluknya
Sungguh, Dani tak ingin sedetikpun melepas pelukannya dari Gea
Dani takut ini adalah pelukan terakhirnya untuk Gea

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- 

“Kenapa lo biarin orang yang sayang sama lo pergi untuk yang kedua kalinya Ge?”

Jawaban Rhava atas pengakuan Gea membuatnya tak berdaya
tangan Gea bergetar dan terasa sangat lemah, lidahnya kelu, dan jantungnya kini berdegup tak berirama.

“Karena…Gue masih sayang sama lo” Ucap Gea dengan nada rendah  

“Tapi lo juga sayang sama dia Gea, jangan biarin dia pergi
Lupain gue, kita Cuma sekedar masa lalu yang gak seharusnya kembali
Coba jalan terus kedepan, jangan inget gue lagi
atau lo hapus aja kontak gue biar lo bisa lupain semuanya” Ucap Rhafa

“Enteng banget ya kamu ngomong kayak gitu, kamu tau Rhaf
aku juga gak mau kehilangan kamu untuk yang kedua kalinya.
Udah cukup waktu 4tahun aku nunggu kamu kembali” tangis Gea tak terbendung

“Terus gimana? Gue juga gak mau liat lo terus terusan sedih karena gue,
Gue udah berusaha lupain lo, Gue juga udah sayang sama orang lain selain lo”

“Apa keputusan aku salah Rhaf?
Apa aku keliru memperjuangin cinta pertama aku?
Kasih aku alasannya kenapa aku salah Rhaf” isak tangis Gea semakin menjadi

“Gea jangan nangis lagi, gue mohon…
Lo harus inget satu hal, jangan pernah sia siain orang yang udah tulus sayang sama lo demi orang lain dimasa lalu yang udah gak bisa sayang sama lo, gue yakin dia lebih baik dari gue,
udah ya jangan nangis lagi”

Rhafa mencoba menenangkan Gea semampu yang ia bisa,
ingin sekali ia memeluknya, tapi jarak tak mengizinkan itu terjadi

“Makasih..
makasih udah berhasil buat aku jatuh setelah kamu buat aku terbang dengan pengharapan kamu
Gue bencii sama lo Rhaf…!!!”

Sambungan telephone terputus....
Diujung sana
Rhava terlihat tak biasa
Hatinya hancur, air matanya tumpah
ingin sekali ia mengubah takdir, menyalahkan waktu bahkan merusak jarak
Rhava menyeka air matanya, mencoba merelakan Gea yang selama ini tetap ia biarkan Tinggal dihatinya

“Gue pengen lo tau Gea, Gue Cuma pengen liat lo bahagia
Pengen liat lo tersenyum. Gue Cuma buat lo sedih, buat lo nunggu
Lo udah nunggu terlalu lama Gea”
ucap Rhafa dalam hati yang tengah berkecamuk

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

14 April tinggal menunggu hitungan hari,
siswa/siswi kelas 3 tengah memfokuskan diri untuk UN termasuk Gea
Tentang peristiwa 4bulan lalu, kisah itu sejenak ia titipkan
Gea tidak mau membuat orang tua, sahabat
& Dani yang selama ini tetap bersama Gea dalam keterpurukannya kecewa


“Saat kamu lulus nanti, apa yang kamu mau?“
Tawaran Dani kepada Gea saat mereka berada diteras rumah Gea

“ Hmm…aku pengen banget punya sesuatu, tapi aku gak yakin kamu bakal bisa ngebulinnya” 
jawab Gea meremehkan

“Weiistt…kamu masih raguin aku Ge?? Ngundang presien Jokowi aja aku sanggup kok”
ucap Dani dengan PDnya

“iiihhh kamu ya Dan, malah ngelawak lagi, Aku serius tau
Kamu liat disana, banyak banget bintang ya..aku yakin pasti ada deh satu buat aku
aku sering nyari yang mana punyaku”
Ucap dan tunjuk Gea pada langit berbintang malam itu

"Kenapa kamu nyari bintang yang jauh..disebelah kamu ada nih satu”
Canda Dani dengan muka polosnya

“yeeee….ini sih bukan bintang Dan, tapi METEOOR hahahaaa”
Balas Gea dibarengi tawa dan cubitan kecil di hidung Dani

Senyum manis itu, akhirnya Dani melihatnya lagi, senyum yang sempat hilang dan memudar

“Tetap kayak gini ya….” Ucap Dani sambil mencubit kedua pipi Gea

Dani yakin, suatu hari Gea akan mendapat bintang yang ia inginkan
Bintang yang muncul setelah senja terbenam
& Dani berharap, Bintang itu
DIRINYA

Kamis, 29 Januari 2015

Senja Yang Belum Terbenam

Setiap orang punya masa lalu, pasti punya dan harus punya
Masalalu menjadikan kita berbeda dimasa kini dan masa depan
Tulisan ini untuk seseorang, Luka dimasa lalu, Cerita dimasa kini
Dan
Kenangan dimasa depan

Ini adalah tahun ke 4 kamu tidak disini, menghilang namun tetap berbayang, pergi namun seakan kembali menghampiri
Empat tahun bukan waktu yang singkat bukan?

    Koridor merupakan akses yang sangat familiar bagi para siswa yang mengabdikan dirinya disini, sekolah tercinta, sekolah yang penuh cerita, cita bahkan cinta didalamnya.
Sudah lebih dari 1jam dia duduk manis di bangku panjang koridor dekat perpustakan, wajahnya mulai gelisah dibarengi amarah, hijab yang berantakan, dan penampilannya kini, hmm....entahlah, ia lebih tepat disebut gelandangan mungkin, ketimbang seorang siswi SMA ternama.
Terik mentari melengkapi penderitaannya. Parfum yang sedari pagi membuatnya wangi, kini menguap pergi, yang tersisa hanya bau matahari
   Mata tajamnya tak henti melihat kearah gerbang sekolah, sosok yang ditunggunya dari 1jam yang lalu belum juga ia temukan disana, dan akhirnya dia memutuskan untuk beranjak..

"Eh, tunggu..." sebuah tangan menyentuh lembut tangan sang gadis
"Ma’af telat lagi, tapi aku bisa jelasin kok" ucap seorang pria dengan tas dipunggung lengkap dengan baju putih abu abu serta jaket denimnya.

"Gak usah dijelasin, aku udah tau kok, kamu tadi rapat OSIS lagi kan?"
Pertanyaan yang sekaligus menjadi jawaban keterlambatan datangnya Dani

Dari awal Gea tau, ini adalah salah satu resiko yang akan diterimanya saat dia menjawab "oui je veux" setelah Dani melontarkan kalimat "vous serez mon amant"

Add caption
Dani Darmawan, anak tunggal yang punya banyak kesibukan, ketua OSIS, PMR, dan Devisi Olahraga basket disekolahnya
Seorang pria dengan gingsul dan lesung pipit di kanan dan kiri wajahnya, kulit sawo matang dan alis tebal menjadi ciri khas dirinya.
Penyabar dan punya banyak penggemar.

Tapi bagi Gea, Dani hanyalah seorang pria biasa yang tetap punya rasa lelah dengan semua kegiatannya, pria yang tak jarang menangis karena merindukan sosok ibunya, dan pria yang manis walau saat dia menangis

"Gimana kalo aku traktir makan ice cream, mau ya" 
Rayu Dani yang sudah bisa ditebak olehnya.
"Bukannya nanti jam 3 kamu harus kesekolah, Pembentukan tim basket baru junior kamu gimana ? emang bisa diwakilin sama anggota senior yang lain? Lagian tim itu juga bakal ikut kejuaraan nasional wakilin SMA kamu kan?"
Cerocos Gea yang membuat Dani makin ingin mencubit pipinya.

"Ya ampun Gea, aku pikir kamu udah haus banget loh, masih bisa aja ya ngomong sepanjang itu, tenang aja, udah aku serahin semuanya ke Andrean kok, jadi, mau kan?" Gea hanya mengangguk menandakan iya setuju dengan ajakan Dani


5bulan sudah hubungan Dani dan Gea berlangsung, selama itu Dani tetap dalam kesibukkannya dan Gea dengan pengertiannya
Bagi Dani, Gea adalah wanita yang harus ia bahagiakan setelah ibunya, mereka terkadang terlihat layaknya teman, kakak dan adik, juga tak jarang menjadi musuh.


Dering telephone terdengar sayup ditelinga Gea, diambilnya lalu dilihatnya sebuah pesan "Ma’af  ya Gea, malam ini aku gak bisa nepatin janji buat bantu kamu ngerjain tugas, pak Alex ngasih tau mendadak kalo besok...." 
Gea tak merampungkan membaca isi pesan tersebut, ia sudah tau
"Gapapa kok Dan, tugasnya juga udah selesai. Jangan terlalu capek, inget kata dokter" ketik Gea dalam pesannya
"iya iya, aku inget kok. Makasih ya udah ngertiin aku, dan mungkin besok aku gak bisa jemput kamu soalnya jam 6 aku udah harus disekolah. Jangan tidur larut, Sayang Gea :*"“


Awalnya Gea tak pernah mempermasalahkan hal sesepele ini menurutnya, sampai suatu ketika Dani diutus oleh kepala sekolah untuk mewakili SMAnya ke Kamboja.
Selama 1minggu Dani berada disana tak satu pesan maupun telephone dari Dani, entah karena alasan apa, mungkin Dani sibuk disana, pikirnya


Suara dering telephone mengejutkan Gea yang tengah berbaring
1pesan tertera dilayar handphonenya
"Gea kamu apa kabar, gimana study nya?masih inget gue?"
Rentetan pertanyaan dari nomor baru yang asing bagi Gea membuatnya penasaran
"ini siapa?" Balasnya
"ternyata bener, lo udah lupa sama gue" 
Isi pesan tersebut membuat Gea semakin tak mengerti, sebenarnya dia siapa?

"Ma’af untuk 2 tahun lalu, waktu gue pergi gak sempat pamitan sama lo. Rencana bokap buat lanjutin study gue disana itu mendadak banget tapi gue  yakin si, lo gak bakal lupain gue, iya kan? "

Hening, Gea hanya terngiang kata-kata 2 tahun lalu, pergi, tanpa bilang, tanpa berjanji buat kembali

Rhafa...apa bener ini dia, Gea masih saja menebak nebak dalam hati

"Boleh minta pin lo?"

Pembicaraan mereka berlanjut via dunia maya, seakan sesuatu yang hilang bertahun tahun itu kembali
Senja yang sempat terbenam itu kembali…
Rhafa menceritakan semua pengalaman ditempat barunya
tentang studynya, tentang prestasinya, juga tentang gadis yang mengisi hatinya kini.

Gea juga balik menceritakan studynya
dan semua yang dia alami selama ini, termasuk Dani

Seperti alumni yang kembali reuni, mereka menikmati semua cerita dimana mereka masih bersama di  1 sekolah dulu, mereka yang masih sangat lugu, mereka yang dengan ringan menerjemahkan rasa suka menjadi cinta, cinta pertama yang belum pernah Gea alami saat itu

Pesan suara Rhafa yang hanya sekedar mengingatkan Gea untuk tak lupa makan, sampai lagu yang dilantunkan Rhafa dengan suara yang pas pasan kembali mengisi galeri hidup Gea

"Gue denger Gea suka galau ya..gara gara ditinggalin gue pergi"
canda Rhafa dalam percakapan BBMnya
"idih apaan lu, ya enggaklah" balas Gea
"Tolong jangan ulangin kesalahan lo dimasalalu lagi, jangan pernah bohongin diri lo sendiri. Gea, sebenernya gue gak pernah bisa bener bener lupa sama lo, sampai akhirnya ada Clara yang buat gue nyaman"

"Kenapa masih lu ungkit ungkit si Rhaf?
Sekarang udah ada Clara kan, yang buat lo nyaman?"

"Jujur sama gue, Gea masih sayang kan?"
Air mata Gea mengalir begitu saja dari pelupuk matanya
"Kalo gue bilang 'iya' apa bakal ngubah semua yang udah terjadi?
Bakal buat lo pulang? Enggak kan? Kenapa si Rhaf kamu buat aku jadi kayak gini?
Aku pikir kamu udah hilang, lenyap, pergiii..... Tapi kenapa kamu malah datang terus ngingetin aku tentang semuanya?"
Gea menangis terisak

"lo percaya takdir kan? percaya bahwa jodoh pasti bertemu? 
Gue yakin lo percaya, kalo Tuhan mau dia pasti ijinin kita sama sama lagi
Gue akan pulang.
Ma’afin gue..mungkin gue egois, tapi gue Cuma pengen Gea tau apa yang gue simpen selama ini, Gea dengerin lagu ini ya(always be my baby-david cook)

"Aku lagi nangis gini malah kamu suruh dengerin lagu" 
ucap Gea
"Supaya lo lebih tenang"tutur Rhafa

Satu minggu ini pikiran Gea hanya dipenuhi oleh masa lalu yang tak semestinya kembali, Gea melupakan Dani yang menurutnya juga melupakannya.


Sosok yang amat Gea kenali kini berada tepat didepan kelasnya
Menatapnya dalam penuh kerinduan
Senyum itu, senyum yang bahkan mampu menghangatkan hati yang beku sekalipun
Lalu menjatuhkan tubuh mungil Gea dalam pelukannya.....



Bersambung....






Sabtu, 17 Januari 2015

Melepas Kepergian Senja


" Mungkin aku harus mengerti tanpa harus diminta
Merasa tanpa harus terucap kata
Dan aku tau, tanpa kamu minta pun aku akan pergi
Itu yang selama ini senja inginkan dariku bukan?”

Itulah isi sebait tulisan yang terlihat disebuah buku diary bernuansa pastel yang kini berada dikedua  tangannya
Disebuah bangku panjang,dibawah pohon akasia terlihat sosok gadis berhijab yang membalut wajah tirusnya dengan warna merah muda dan busana yang senada
Entah apa yang tengah lalu lalang dipikirannya kini
Yang tegambar hanyalah wajah sendu diikuti linangan airmata yang perlahan keluar dari muara pelupuk matanya

Sore itu semesta memang tak lagi berpihak pada hatinya
perpaduan jingga dan senja di angkasa dihiasi burung wallet yang akan kembali kesangkarnya setelah seharian berpetualang di jagad raya
Angin yang bertiup lembut yang berhasil menerbangkan setiap satu persatu dari mahkota dandelion ditaman ini, membentuk siluet bak sayap malaikat yang kembali ke singgasanya

Keindahan sore itu sama sekali tidak dinikmati oleh gadis ini, ia hanya bisa terisak
Menyadari bahwa yang pergi pasti takkan kembali
Sebenarnya mengapa kepergian selalu disesalkan?
Dan kedatangan selalu dinantikan?
Padahal yang datang, mungkin saja akan pergi lagi
Dan yang pergi, mungkin saja akan kembali
Cukup percaya bahwa jika senja itu miliknya, maka senja itulah yang akan kembali memeluknya, menenangkannya disaat gundah, menguatkannya disaat terjatuh, menghapus air matanya saat ia rapuh

“Sebelum kamu datang, seharusnya kamu mau berjanji untuk tidak pergi...
Kenapa kamu pergi tanpa bilang apapun ke aku, pergi semau kamu 
Kenapa kamu pergi sebelum kamu sempat tau kalo aku juga sayang sama kamu

Kenapa ?"
Tangisnya tumpah disaksikan senja